Ah..., apakah harga diriku ini terlalu murah untuk di relakan dengan harga yang rendah, dengan ketulusan maaf kepada mereka? Dan sangat sakit, apabila terkenang “orang-orang bersalah itu” tertawa dengan senang melihat keterpurukan ku, dan setelah itu mereka meminta maaf sambil tersenyum tanpa salah dan sesal. Ah...., semurah itukah kata maaf, sungguh ku tak rela....
Namun, itu hanya bisik 'hati besarku'. Yang melantunkan suara ego dan marah. Kesal dan kesumat. Tetapi jauh dari dalam diri...ada suara lain yang bergetar. 'Hati kecil' yang tidak jemu-jemu mengingatkan. Suara tulus yang mendamaikan gelombang jiwa. Bisik tulus yang meredakan amukan rasa.Maafkan..., lupakan...,cintai...., sayangi....
Berperang dengan mereka berarti berperang dengan diri sendiri. Begitu bisik hati kecil itu selalu.
Pada sebuah persimpangan rasa, tiba-tiba hati disapa oleh sebuah firman: "Tolaklah kejahatan dengan sebuah kebaikan.Niscaya engkau akan mendapati musuhmu akan menjadi seolah-olah saudara".
Wahai diri,api jangan dilawan dengan api. Nanti baranya akan membakar diri sendiri. Menyimpan dendam sama seperti membina sebuah gunung berapi di dalam hati. Semakin besar dendam itu, maka semakin sakit hati yang menanggungnya. Mereka yang ku anggap melukaiku akan terus tertawa, sedangkan aku sendiri menderita meneguk bisa.
Musim-musim terus berlalu sewajarnya mendewasakan diri. Pengalaman lampau senantiasa membuktikan bahwa permusuhan hanya akan memberi kepuasan sementara. Apabila 'fatamorgana' itu berlalu. Diri akan menjadi lebih dahaga daripada sebelumnya. Apakah akan terjperosok perangkap itu berkali-kali? Oh,tidak. Mukmin tidak akan terperosok dalam lubang yang sama dua kali. Begitu maksud sebuah sabda. Justeru Cukup sekali!
Biarlah mereka tertawa sepuas-puasnya. Beban rasa ini biarlah ku letakkan. Tidak akan ku bawa dalam safar kehidupanku yang pendek ini. Hidup terlalu singkat untuk membenci. Bermusuhan dengan orang lain, sama seperti bermusuhan dengan diri sendiri. Memaafkan orang lain,sama seperti memaafkan diri sendiri. Kata bijak pandai: "Apa yang kita berikan akan kita terima kembali".
Ah, betapa leganya sekarang...Benarlah bahwa kebaikan itu tampak sukar untuk dilaksanakan. Pahit. Sakit. Tetapi apabila dilaksanakan akan terasa kemanisannya. Manakala kejahatan itu tampak mudah, indah dan manis. Namun apabila dilakukan, pasti ada kekesalan, kepahitan dan keresahan. Ketika ini terasa benar apa yang selalu didengar di dalam tazkirah - yang punya tabsyir dan inzar - bahwa dosa itu sesuatu yang meresahkan. Dendam itu dosa. Memaafkan itu pahala. Memaafkan menjemput datangnya 'syurga' yang fana, sebelum syurga yang kekal abadi.
Kini hatiku bertanya-tanya lagi...siapa aku, yang begitu sukar memaafkan? Tuan? Tuhan. Aku hanya hamba. Sedangkan DIA Sang Pencipta itu Maha Pemaaf, Maha Pengampun, siapa aku yang kerdil ini untuk terus berdendam? Ya ALLAH, ampunkan aku. Sengaja atau tanpa sengaja, sering atau kekadang...aku 'terlanjur' menumpang hak-MU..
By: Az-Zukhruf




Tidak ada komentar:
Posting Komentar